Bukittinggi, 22 Februari 2021
Melihat foto Uci, mengingatkan penulis kepada sosok yang sangat peduli dengan cucunya. Uci yang akrab dipanggil Uci Subarang ini merupakan sosok wanita yang sangat sayang dan peduli kepada cucunya. Dipanggil Uci Subarang karena rumah bako kami (rumah Uci terletak di Subarang batang Aia Sungai Layah. untuk mencapai rumah bako, perlu melewati jalan mungkil Lambah lapau, dan menyeberangi sungai (tapi ado jambatannyo) yang punya atap (kehebatan urang Sungai Layah (jembatan saja diberi atap). tujuannya adalah untuk berlindung bagi pelintas dikala hujan atau terik atau sekedar melepas lelah. dari jembatan baatok tersebut sudah kelihatan rumah bako yang panjang (mungkin sekitar 25 meter dengan lebar sekitar 7 meter. Sungguh rumah yang dibangun oleh Enek Lakan yang cukup besar saat itu. di rumah ini kami bisa berlari-lari dari pangka (dapur) ke Ujung (letak kursi tamu). Kami pernah berkejar-kejaran di rumah ini bersama Bang Edy (cucu Sulung, saya sendiri Masri dan Bang Ris,(saat ini tinggal di Glenmore Banyuwangi) anak dari Pak Pakiah Bamin. Entahlah kalo dicaritoan sanangnyo tingga jo bako waktu itu.
Ada beberapa cerita menarik yang pernah penulis alami bersama Uci Subarang. Pertama waktu penulis masih pelajar SMP. Kalo hari libur, kami pulang ke Tompek dimana tempat yang ikut mewarnai kehidupan kami bersama orang tua terkasih bersama saudara 6 orang. Yang namanya anak SMP pastilah banyak tugas diberikan guru, kebetulan waktu itu menghafal Surat Al Baqrah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa. jadi kemana-mana selalu membaca dan menghafal surat ini, baik ke sawah, ke parak, dan bahkan waktu mancuci pinggan (piring).
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙkarena begitu semangat dalam menghafal, sampai pada bacaan الصِّيَامُ penulis baca dengan suara nyaring shiyaaaaaam. berulang kali sampai pada akhirnya, apak Bukhari Almarhum marah sampai berkata "Apo nan ang baco" sambil berlalu.
lalu penulis heran dan takut, kok apak bangih padahal hanya menghafal al quran yang ditugaskan guru di sekolah. Baru pada awal 90-an penulis tahu alasannya kenapa apak bangih. alasannya adalah karena nama Uwaihnya disebut acok-acok bana. (tapi bangga juga hafal surat al baqarah ayat 183 sambil menghafal nama Uci Subarang..hehehhe. Rupanya menyebut nama orang tua itu disebut gadang kulidah (ndak sopan). maaf yo pak, nama uwaik Apak acok disabuik-sabuik urang. mudah-mudahan ladang amal bagi uci subarang.
Nan kaduo, terkait dengan foto Uci Subarang di atas. waktu itu, mungkin sekitar tahun 92-95, nggak tahu persis tahunnya. waktu itu kami mengunjungi bang Edy di Padang yang baru pindah kerja dari Pagai (kepulauan Mentawai) dan bekerja di Phage Lestari Ulu Gadut. Kami berangkat bersama Uci Subarang (almarhum), penulis sendiri, Amak (Syamsidar), Misrawati.
Dari Guguak kami berangkat menaiki oto kijang Pik Up Datuak Anaih sampai Simpang Padang Koto Gadang.. Waktu itu Mustakim (almarhum) minta ikuik, tapi ndak boleh. Dari Simpang Padang Koto Gadang kami naik Bus Bintang Pasaman. Nah....kejadian lucu berawal di atas Bus ini. Kami tidak tahu kalau Uci ini adalah pemabuk berat (muntah maksudnya) sehingga bagi Uci, tempat duduk di oto Bintang Pasaman itu tidak perlu, yang penting bagi dia adalah lalok tapi di lantai oto, hahahahha. banyak penumpang lain batanyo, baaa kok nenek lalok di lantai oto, baa kok ndak di kursi?. baa kato Uci, sanang lalol di bawah lai dari pado di kursi bakasua tu...hahahahhha. yang penting Uci Subarang happy pai jo cucunyo sambia mancaliak gunung pdang jo aia gilo.
para pembaca yang budiman, tahu ngggak apa yang dibawa uci mancaliak bang Edy ka Padang? mungkin pembaca tidak percaya. Yang dibawa adalah Pisang Batu Mangka sakaruang yang disiapkan apak (Bukhari Almarhum) dari Padang Batuang. Yang lebih menghebohkan lagi, pisang batu mangka itu juga diberikan ke keluarga Syamsul bahri Salam raja kayu dunia dan pemilik sekolah Planet Kids Padang. Ternyata untuk membuktikan menganggap saudara itu tidak harus yang mewah, pisang batu miang bisa . hahahahahaa
Seletelah selesai, Uci dan rombongan pergi menikmati pantai Padang sambil makan karupuak dan melihat ombak berkejar-kejaran di pantai Padang.

Comments
Post a Comment